From Makassar To Bulukumba

Sebelum menikah, saya dan suami (yang saat itu masih berstatus ‘calon’) memang telah banyak berdiskusi tentang banyak hal, salah satunya adalah rencana untuk pindah dari kota kelahiran saya, Kota Makassar, menuju ke kampungnya orang, Kabupaten Bulukumba. Alasan utamanya, ya karena pekerjaan suami saya. Suami saya bekerja dan ditempatkan di daerah tersebut. Agak lucu yaa kedengarannya, dari kota pindah ke kabupaten, seperti malah ‘mundur’, hihihihi... (haha) tapi entah kenapa saat membahas soal kepindahan tersebut, saya dengan yakin dan mantap menjawab:

"Iya, saya ikut kakak ke Bulukumba" (rock)
Pantai Losari, Kota Makassar

Padahal suami saya sudah menyiapkan alternatif kalau-kalau saya agak berat hati untuk pindah. Katanya, tiap weekend dia siap koq bolak-balik Bulukumba-Makassar, atau sebaliknya. Saya cuma bisa tertawa sambil berkata:

“Hahaha... repotnya, atau mending sekalian saja saya menikah sama orang yang ada di Makassar saja dihh?” (haha)

“Lho, kenapa Ai bilang begitu?” :-(

“Ahahahaha... kakak, dengar nah... Ini bukan soal di Makassar, atau di Bulukumba, atau di Jepang, atau di Hongkong, atau dimana... Kalau memang saya berat untuk tinggalkan Makassar, untuk apa saya menikah dengan kakak? Kenapa saya tidak menikah dengan orang yang ada di Makassar saja kalo begitu, yang sudah pasti dan jelas bahwa saya akan tetap tinggal di Makassar. Bukan soal itu, kakak... ini soal kita. Ini tentang Ai' dan kakak. Intinya adalah saya mau sama-sama terus dengan kakak. Itu saja.” :-)
Bundaran, Kab. Bulukumba

saat itu, katanya, suami saya langsung terdiam, terharu katanya... padahal saya sendiri juga kaget, barusan siapa yang ngomong ya? hehehehe...

Belakangan baru kepikiran, Bulukumba... Bulukumba...Bulukumba yaaaaa?  


Gak ada Mall... eh ada sih, katanya baru mau dibangun (memangnya Mall-nya lagi tidur sampai harus dibangunkan?), gak ada toko buku yang lengkap, ndak ada tempat makan sevariatif di Makassar, ndak ada toko yang ‘lucu-lucu-unyu-unyu’ (sebutan aneh buatan sendiri untuk menyebut toko yang menjual berbagai aksesoris perempuan), ndak ada teman-teman, ndak ada teman gowes, ndak ada keluarga, ndak ada ini, ndak ada itu... Hmmmmm... (nottalking) 
tarik nafas, hembuskan...

Sebenarnya semua itu tidak akan menjadi alasan saya untuk berubah pikiran, tidak satu pun. Hanya saja ada beberapa hal yang mungkin akan berat untuk saya tinggalkan, tapi harus. Saya akan meninggalkan keluarga, terutama Papa yang dari dulu entah kenapa sepertinya sangat tergantung dengan saya. (Ya Tuhan, entah kenapa apapun yang mengangkut Papa pasti buat ku sedih... bahkan saat mengetik tentang ini pun) (tears). Papa sering sakit, dan sakitnya sering kambuh sewaktu-waktu. Saya yang selalu mengurus Papa di rumah, mungkin karena tinggal saya anak perempuannya yang terakhir yang ada di rumah. Adikku laki-laki yang beranjak dewasa, yang punya banyak aktivitas di luar rumah. Tak tega rasanya meninggalkan Papa. Tapi saya kembali berpikir bahwa cepat atau lambat, toh hal ini akan terjadi. Mungkin inilah saatnya saya memberikan kesempatan untuk adikku yang satu itu untuk berbakti sama Papa, dan sama Mama juga tentunya :))

Selain Papa, otomatis saya pastinya juga akan meninggalkan Mama. Saya paling sering ngobrol sama Mama. Biasanya sehabis maghrib, kami sering ngobrol di ruang keluarga sambil nonton TV. Ngobrol apa saja. (saya tengah merindukannya) :)) mungkin saya akan sering-sering menelponnya nanti.

Hal lain yang akan saya tinggalkan adalah kantor tempat saya bekerja. Kantor pertama dan terakhir ku, hahahah... Sebuah lembaga kursus untuk anak-anak usia 4-12 tahun milik Kakak Ketiga. Disana saya tidak hanya bekerja, tapi juga berbagi... tidak hanya digaji, tapi juga diajar... tidak hanya ‘membanting tulang’, tapi juga ‘mengasah hati’... tidak hanya dapat uang, tapi juga dapat pelajaran berharga. Terlepas dari itu semua, disana saya banyak membantu kakak saya yang saat itu memang tidak bisa beraktivitas banyak di luar rumah karena mengurus anak-anaknya yang masih kecil di rumah. Yah, mungkin sekarang saatnya beliau harus kembali aktif di kantor. 

Berat memang, kalau mau pake perasaan, berat memang... semuanya akan berat untuk ditinggalkan... meninggalkan teman-teman pun rasanya berat sekali... tapi satu hal yang pasti, saya hanya tidak ingin berada DISINI, dan suami saya berada DISANA.

Mohon dimengerti. :-)   
 
*Gambar diambil dari sini dan situ    

4 comments:

S A R I

04 December, 2012 11:45
Permalink this comment

1

said...

tapi insya Allah saya akan sering-sering KESINI, sekedar bersua dengan semua yang ada DISINI :))

1

said...

mengharukan (cry)

Anonymous

04 February, 2013 22:47
Permalink this comment

1

said...

Superr skali... (applause)

1

said...

Bapa saya orang bulu kumba tapi 20 thun dia ga pernah pulang ke kota asal nya saya tidak tahu raut muka kake saya

Post a Comment